Tahun 2010 telah berakhir. Tahun 2011 telah mulai berjalan. Sebuah tulisan yang telah saya persiapkan semenjak pergantian tahun 2010 ke 2011 ini. Sebuah ungkapan rasa yang muncul dan menggelitik. Sebuah kenyataan yang coba untuk saya bagikan. Semoga tulisan ini dapat memberikan dorongan dan menjadi support moril bagi mereka yang sedang berjuang memperoleh kebenaran hidup dalam iman. KEBENARAN dan bukan PEMBENARAN.
Keimanan religius merupakan salah satu pegangan utama bagi seluruh orang dalam menjalani berbagai aspek kehidupannya. Banyak paham yang telah kita telan dan resapi dalam sekian tahun kehidupan kita. Terkadang ada beberapa hal yang kita telan mentah-mentah tanpa mempertanyakan lebih lanjut mengapa begini, mengapa begitu.
Keimanan religius adalah suatu pola relasi yang intim dan privat antara manusia dengan Tuhan. Mungkin tidak ada salahnya bila dalam menyambut tahun yang baru ini kita mencoba membuat suatu resolusi untuk mendalami lebih lanjut pegangan hidup kita tersebut. Sehingga memang kita dapat mempertanggungjawabkan keimanan yang kita pegang. Seringkali banyak pihak menentang keras “mengutak-utik” sesuatu yang menurut mereka sudah absolut. Namun, menurut pandangan saya pribadi hal ini justru dalam banyak hal menunjukkan “ketidakyakinan” mereka terhadap keyakinan mereka sendiri. Pihak-pihak ini barangkali “takut” untuk mempertanggungjawabkan imannya, takut bila jangan nanti apa yang telah mereka pegang selama ini ternyata tidak tepat dan mereka harus meninggalkan zona nyaman mereka.
Kita sebagai masyarakat yang terpelajar sebaiknya mulai untuk lebih kritis, jangan hanya menelan bulat-bulat doktrin-doktrin yang disuapi pada kita. Mungkin hal-hal semacam inilah yang akhir-akhir ini semakin menyuburkan fanatisme berlebihan dalam kehidupan beragama di masyarakat yang majemuk ini. Evaluasi dan pertanggungjawaban iman menurut saya pribadi bukanlah suatu hal yang perlu ditakuti, karena toh bila memang apa yang kita yakini ini benar, maka kita tidak akan “kehilangan” apa-apa, malahan semakin kokoh dalam berpegang dan menjalani hidup.
Beragam upaya untuk mempertanggungjawabkan iman kepercayaan tentunya bukan hal yang dapat selesai dalam hitungan jam, hari, bulan, atau bahkan dalam hitungan 1 tahun. Tapi, marilah kita berani untuk memulai, sehingga pada 31 Desember 2011 nanti, kita telah lebih memahami secara mendalam iman kita, dan menjadi lebih kokoh dalam menjalani kehidupan ini, bukan dengan doktrin “omong-kosong” tanpa dasar, namun suatu relasi spritualitas yang semakin intim dengan Sang Pencipta.
Jangan takut untuk mendalami dan mengkritisi keimanan religius kita. Teruslah berupaya tanpa kenal lelah, dan jangan lupa pula berdoa pada Tuhan yang menciptakan kita semua. Semoga tahun 2011 dapat menjadi lebih cerah bagi kita semua, serta kedamaian dalam keberagaman bangsa Indonesia.

