Menjaga Suatu Hubungan

22 04 2010

Kembali membahas seputar dunia cinta…hehehe…

Suatu hubungan, salah satu yang paling dekat dengan kehidupan kita adalah hubungan dengan dasar cinta, tidak hanya meliputi diri kita sendiri, namun juga turut melibatkan orang lain. Oleh karena itu mungkin tidak sedikit hal yang perlu kita sesuaikan, perlu lebih berhati-hati dalam bersikap, supaya dapat terjalin suatu hubungan yang positif. Secara teori mungkin lebih mudah, bahwa supaya suatu hubungan berjalan positif dan baik, maka diperlukan saling pengertian antar elemen yang terkait. Namun, dalam prakteknya cukup sulit untuk menbuat suatu hubungan menjadi memiliki kualitas serta kuantitas yang cukup.Terkadang kesibukan sehari-hari membuat dua orang yang menjalin hubungan memiliki kesempatan untuk bertemu yang minim, berarti secara kuantitas mungkin kurang. Memang, pada kenyataannya mungkin bila kuantitas suatu hubungan terlalu tinggi dapat menghasilkan kejenuhan, sehingga mungkin mengurangi kuantitas dapat membuat suatu hubungan menjadi lebih bermakna setiap kali kesempatan, ini berarti harapannya dengan kuantitas yang agak kurang, diharapkan diperoleh kualitas hubungan yang baik.

Namun ternyata, praktek di lapangan tidaklah selinier apa yang dinyatakan dalam teori. Terkadang ada satu pihak yang ingin mengikuti teori tersebut, mencoba mengurangi kuantitas interaksi dalam hubungan, berharap agar tiap-tiap interaksi menjadi berkualitas tinggi dan menghindari kejenuhan dalam hubungan. Secara teori baik, namun apa jadinya bila justru yang diperoleh adalah hubungan yang memiliki level kuantitas yang kurang serta kualitas yang minim. Interaksi dibuat menjadi jarang, namun tiap berinteraksi ada saja miskomunikasi. Hmm…heran juga yah kalo ngeliat realita gini…Kalo emang terbukti dengan frekuensi interaksi yang tidak dibatas-batasi ternyata memberikan kualitas hubungan yang lebih baik, kenapa ada pihak yang tetap mencoba membatasi?…hehe…tanya kenapa…itulah realitas.

Apa jadinya bila dalam komunikasi yang jarang itu 80% berjalan sesuai yang diinginkan, namun ternyata diakhiri dengan 20% miskomunikasi yang “merusak”. Bila hal ini terjadi tidak hanya sekali, mungkin saatnya untuk mulai merefleksikan hal ini bersama partner kita. Ada sesuatu yang salah. Bila hal ini baru terjadi akhir-akhir ini, berarti ada suatu perubahan / inovasi dalam menjalankan hubungan yang salah. Apa yang salah? Itu benar-benar tergantung kita dan partner, dan benar-benar variatif antara pasangan yang satu dengan yang lain. Tapi ada satu kunci yang cukup general untuk mencoba meredam hal ini, KOMUNIKASI. Di saat-saat seperti ini, justru jangan memvakumkan komunikasi antara kita dan partner, karena ini tidak akan menyelesaikan masalah, namun justru berpotensi makin merunyamkan permasalahan. Cobalah untuk saling berbicara dan memperbaiki ini sebelum menjadi lebih buruk lagi. So, terlalu lama berpikir tidak akan menjaga hubungan kita menjadi lebih baik. Menjaga agar KUANTITAS, KUALITAS serta KOMUNIKASI dalam kondisi baik tidaklah mudah semudah apa yang dikatakan teori. So, jangan lama-lama mikirin apa yang saya tulis ini, segera lakukan hal nyata untuk menjaga hubungan kita.

Because love is not only about you, but also about one you love.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: