Romantika Garuda “Cilik” di Kebun Tulip

30 04 2010

Seekor burung garuda “cilik” di dalam kebun tulip yang lebat. Sang garuda telah melalui masa kelahirannya dan kini mulai mencari jati diri. Garuda “cilik” yang telah dierami selama masa yang panjang dalam kultur tulip yang telah tumbuh sejak masa yang sangat panjang. Ya, begitulah mungkin kurang lebih hubungan antara Indonesia dan Belanda. Indonesia yang identik dengan burung garuda nya serta Belanda yang cukup identik dengan hasil tulip nya. Mengapa Indonesia dianalogikan sebagai garuda cilik di tengah kebun tulip yang telah dewasa?

Gambar 1. Garuda Cilik
Gambar 2. Kebun Tulip

Bila menilik sejarah, Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 2010 ini telah memasuki usia yang ke-65, suatu angka yang semestinya sudah cukup tua bila kita bandingkan dengan usia hidup manusia. Kerajaan Belanda, pada 26 Juli 2010 ini akan resmi memasuki usia proklamasi yang ke-429 tahun!!! Ternyata memang negeri yang dulunya sempat dijuluki “Hindia Belanda” masih sangat cilik bila dibandingkan dengan negeri yang sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan air laut.

Seorang ibu dapat memiliki ikatan batin yang lebih kuat dengan anaknya karena telah terjadi komunikasi yang intim antara sang ibu dengan si anak sejak masih janin selama 9 bulan 10 hari. Demikian pula dengan sang Garuda “cilik” yang telah dierami oleh sang tulip selama 3,5 abad sebelum akhirnya lahir menjadi seekor garuda. Tentunya ada keterikatan emosional antara sang Garuda “cilik” dan tulip yang telah menjalankan suatu relasi intim dalam jangka waktu yang panjang. Membandingkan Indonesia dan Belanda, ibarat memperbandingkan sifat seorang ibu dengan anaknya, mendasar pada poin-poin yang sama, namun dengan kadar yang berbeda.

Gambar 3. Total Football
Gambar 4. Fanatisme Suporter Indonesia

Hal yang paling mudah terlihat adalah dalam hal olahraga yang paling popular di negara masing-masing, sepakbola. Belanda dengan “Tim Oranye” nya merupakan salah satu kiblat persepakbolaan dunia dengan gebrakan “Total Football”, atau “Totaalvoetbal” dalam bahasa Belanda, yang dipopulerkan oleh pelatih Rinus Michels pada tahun 1970-an. “Total Football” merupakan suatu terobosan inovatif dalam permainan persepakbolaan pada masa itu. Di saat tim-tim lain bermain dengan pola baku yang agak minim improvisasi permainan, atau kalau pun ada cenderung one-man show seperti yang ditunjukkan oleh Pele di Brasil pada tahun 1950-an, Belanda muncul dengan inovasi permainan yang menuntut fleksibilitas dari seluruh pemain di lapangan sehingga tidak terpaku oleh pola baku yang ditentukan di awal pertandingan. Ketika seorang pemain meninggalkan pos nya, maka seorang pemain lain akan menutup posisi kosong tersebut. Sehingga seluruh pemain di lapangan dapat menjadi penyerang, pemain tengah ataupun pemain bertahan dalam satu pertandingan. Inovasi yang diakui menjadi salah satu prinsip permainan persepakbolaan internasional membuat tim nasional Belanda juga memiliki basis suporter yang cukup fanatik, loyal serta memiliki kebanggaan yang tinggi. Indonesia pun tidak ketinggalan dari “senior”nya tersebut. Animo dan fanatisme suporter sepakbola di Indonesia patut diacungi jempol, bahkan mungkin dapat disejajarkan dengan fanatisme dan kebanggaan para suporter tim-tim besar di dunia. Ikatan antara Indonesia dan Belanda dalam persepakbolaan tidak berhenti di fanatisme dan kebanggaan para suporternya, namun ternyata di negeri oranye tersebut terdapat garuda-garuda cilik yang menimba ilmu persepakbolaan di kebun tulip tersebut. Melalui sumber di situs PSSI, ternyata terdapat pemain-pemain muda potensial keturunan Indonesia yang aktif bermain di kompetisi sepakbola Belanda. Mereka adalah Donovan Partosubroto yang baru berusia 17 tahun dan menjadi kiper di klub Ajax yunior, Raphael Tuankotta (21, Volendam yunior), Justin Tahaparry (21, FC Eindhoven), Estefan Pattinasarani (17 tahun, AZ Alkmaar), Marvin Wagimin (17 tahun, VVV Venlo), Tobias Waisapy (18, Feyenoord yunior), Irfan Bachdim (FC. Utrecth) serta Raymon Sosroredjo (17, Vitesse yunior). Luar biasa sekali ikatan batin antara Indonesia – Belanda di dunia sepakbola, apalagi bila nantinya para pemain muda ini memutuskan membela panji-panji garuda merah-putih.

Gambar 5. Donovan Partosoebroto (Ajax)
Gambar 6. Irfan Bachdim (FC. Utrecth)

Belanda identik dengan oranye. Tidak salah memang Belanda memilih oranye sebagai warna citranya. Dalam psikologi warna, oranye membawa sifat dinamis, cemerlang, enerjik, dan inovatif. Hal ini membuat Belanda seolah tidak pernah kehabisan energi untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik dan tentunya untuk terus berinovasi. Salah satu hal yang dapat diperbandingkan dengan Indonesia serta nyata terlihat adalah hubungan antara kedua negara dengan air. Bila kita menyimak berita-berita dalam satu tahun terakhir ini, sudah lebih dari 10 peristiwa di mana suatu lokasi menderita kebanjiran. Musibah kebanjiran ini disebabkan oleh berbagai macam sebab, salah satunya adalah rendahnya sebagian dataran di kota Jakarta relatif terhadap permukaan air laut. Hmm, beralih ke Belanda, negeri yang juga dikenal dengan sebutan Netherland, yang kurang lebih memiliki arti “tanah rendah”. Belanda sekitar 60% datarannya berada di bawah permukaan air laut. Hal ini merupakan tantangan, yang pada akhirnya menuntun bangsa Belanda untuk berinovasi demi mengatasi tantangan tersebut. Pada mulanya pemerintah Belanda mencoba membangun pematang raksasa, atau biasa disebut duinen, yang dibentengi dengan bukit-bukit pasir raksasa yang membentang luas dari wilayah selatan, bagian Belgia, hingga ke bagian utara, yaitu wilayah Groningen dan Friesland. Selain itu pada pengembangan teknologi berikutnya dilakukan juga suatu operasi yang dinamakan “Delta Project”. Megaproyek ini dibangun untuk membendung tiga delta sungai utama yang mengalir, yaitu Rhine, Meuse dan Scheldt. Pembangunan proyek ini ditutup dengan penuntasan konstruksi tanggul penahan gelombang laut Oosterscheldekering di Zeeland. Sungguh suatu determinasi yang tinggi dari masyarakat Belanda untuk menanggulangi berbagai keterbatasan yang mereka miliki. Tapi, jangan berkecil hati, seperti hubungan relasi antara ibu dengan anaknya, Indonesia pun mulai mencari inovasi-inovasi untuk menanggulangi permasalahan terkait banjir, seperti misalnya lewat proyek Banjir Kanal Timur di Jakarta untuk menanggulangi banjir yang senantiasa melanda di musim hujan.

Gambar 7. Delta Project
Gambar 8. Banjir Kanal Timur

Belanda ibarat tulip yang senantiasa mencoba untuk mekar berseri meskipun dimakan oleh waktu. Garuda “cilik” pun memiliki potensi untuk terus tumbuh berkembang menjadi garuda dewasa yang gagah dan disegani semua pihak. Inovasi lahir dari kreativitas yang tinggi, kreativitas yang tinggi lahir dari wawasan yang luas serta pengetahuan yang tinggi. Kita ini, para garuda-garuda “cilik” harus senantiasa menuntut ilmu setinggi-tingginya dan tidak berhenti untuk berinovasi agar menjadi Garuda dewasa yang matang dan siap tampil sama gagahnya dengan tulip yang tumbuh di taman. Jadilah inovator, bukan pengekor.

Garuda Pancasila

Garuda pancasila

Akulah pendukungmu

Patriot proklamasi

Sedia berkorban untukmu

Pancasila dasar Negara

Rakyat adil makmur sentosa

Pribadi bangsaku

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju maju

Ayo maju garuda merah-putih ku, tinggalkan batasanmu dan terbanglah menuju langit luas.

Gambar 9. GARUDA PANCASILA

Actions

Information

3 responses

23 12 2010
asep roni

yuo are binz guz ay meen goot yo go bill der

23 12 2010
asep roni

cheat pb ikut tin main

15 01 2011
Bergas L289

mantap…!=)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: