Gesang, Riwayatmu Kini

20 05 2010

Bengawan Solo, riwayatmu ini
Sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau, tak seb’rapa airmu
Di musim hujan, air meluap sampai jauh

Ref:
Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut

Itu perahu
Riwayatmu dulu
Kaum pedagang s’lalu
Naik itu perahu

Mendengar lirik tersebut tentu kita teringat pada sebuah aransemen lagu keroncong yang melegenda di Indonesia dan bahkan di luar negeri. Ya, itu adalah lagu Indonesia berirama keroncong yang berjudul “Bengawan Solo”. Lagu ini adalah hasil ciptaan seorang maestro keroncong tanah air bernama Gesang. Lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh pria kelahiran 1 Oktober 1917 ini pada tahun 1940 dengan terinspirasi oleh sebuah sungai besar di Jawa Tengah yang bernama sama. Kepopuleran lagu ini bahkan juga merambah hingga para tentara Jepang yang saat itu bertugas di Indonesia dalam masa kolonialisasi Jepang atas Indonesia. Setelah Perang Dunia II, tentara Jepang membawa pulang lagu ini ke negara mereka. Di Jepang, lagu ini menjadi terkenal pada masa itu setelah dibawakan oleh beberapa orang penyanyi, termasuk salah satunya yang bernama Toshi Matsuda pada tahun 1947.

Di tahun 1991 seorang veteran tentara kerajaan Jepang, merancang “life-sized statue of Gesang” yang akan ditempatkan di Taman Surakarta di  kota Solo, sebagai penghargaan yang tinggi terhadap pencipta lagu “Bengawan Solo” yang telah dapat menembus barrier hubungan budaya antara Indonesia dan Jepang sejak perang dunia masih berkecamuk. Dengan melodi yang indah serta syair yang sangat menyentuh hati, lagu “Bengawan Solo” telah direkam oleh sejumlah penyanyi tenar, antara lain Waldjinah, Toshi Matsuda, Anneke Gronloh dan Rebeca Pan serta Francis Yip.

Kamis, 20/05/2010, sekitar 70 tahun setelah lagu yang melegenda tersebut didendangkan untuk pertama kalinya, Gesang akhirnya kembali berpulang pada Yang Maha Kuasa. Gesang menghembuskan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo pada pukul 18.00. Gesang telah dirawat sejak 12 Mei 2010 di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Solo karena kondisi kesehatannya menurun. Bahkan, ia sempat masuk ke ruang intensive care unit (ICU) karena tak sadarkan diri. Sejak dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, kondisi kesehatan Gesang sempat membaik, bahkan sempat bisa berbicara. Namun, kondisi kesehatannya menurun sejak Kamis siang hingga mengembuskan napas terakhirnya.

Inilah beberapa prestasi yang pernah diraih oleh Gesang sepanjang hidupnya :

PERJALANAN KARIER :
Pekerjaan :

  • Pemain orkes keroncong
  • Penyanyi
  • Pencipta Lagu
  • Membantu perusahaan batik orangtua (1935-1941)
  • Pengusaha Warung (1941-1945)

KARYA :

  • Lagu/musik : Keroncong Tembok Besar
  • Lagu/musik : Keroncong Piatu (1938)
  • Lagu/musik : Keroncong Roda dunia (1939)
  • Lagu/musik : Bengawan Solo (1940)
  • Lagu/musik : Saputangan (1941)
  • Lagu/musik : Tirtonadi (1942)
  • Lagu/musik : Keroncong Pemuda Dewasa (1942)
  • Lagu/musik : Dunia Berdamai (1942)
  • Lagu/musik : Jembatan Merah (1943)
  • Lagu/musik : Dongengan jawa (1950)
  • Lagu/musik : Sebelum Aku Mati (1962)
  • Lagu/musik : Keroncong Bumi Emas Tanah Airku (1963)
  • Lagu/musik : Langgam Luntur (1970)
  • Lagu/musik : Seto Ohasi (diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang (1988)

PENGHARGAAN :

  • Piagam dari Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) II (1976)
  • Piagam Hadiah Seni 1977 dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1977)
  • Penghargaan TVRI Stasiun Yogyakarta (1978)
  • Piagam Penghargaan dari OISCA International Indonesia (1978)
  • Hadiah rumah Perumnas Palur dari Gubernur Jawa Tengah (1979)
  • Penghargaan PWI HUT XXXIX dan HUT VI Museum Pers Nasional (1985)
  • Penghargaan Wali Kota Surakarta dalam rangka Fespic Games IV (1986)
  • Bintang penghargaan dari Kaisar Akihito, Jepang (1992)
  • Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI (1992)

Mari kita mengenangkan berbagai prestasi yang pernah ditorehkannya sepanjang hidupnya. Lagunya yang membuat Sungai Bengawan Solo menjadi melegenda tidak hanya di Indonesia, namun juga di luar negeri. Perjalanan Gesang telah mencapai muara dari Sungai Bengawan Solo, kini maestro keroncong ini telah mengakhiri perjalanannya di dunia. Sungguh suatu kebanggaan bahwa negeri ini pernah memiliki seorang maestro bernama Gesang Martohartono. Gesang, riwayatmu kini, selamat jalan.

Mata airmu dari Solo
Terkurung Gunung Seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut



Actions

Information

One response

24 05 2010
what does my name mean

hi wats your myspace page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: