Rasisme Lewat Internet, Kebebasan yang Kebablasan

20 05 2010

Beberapa hari terakhir trafik dunia maya di tanah air banyak tersita pada topik kasus rasisme yang menimpa seorang mahasiswa ITB terkait emosi sesaatnya seusai menonton pertandingan sepakbola antara Persib Bandung Vs Persipura Jayapura. Kasus ini bermula ketika mahasiswa ITB ini, Zul, menulis status di salah satu jejaring sosial di internet, Facebook, mengenai perasaannya. Hal seperti ini bukanlah kasus yang pertama terjadi di Indonesia, apalagi dunia. Menanggapi hal-hal seperti ini marilah kita semua mencoba memikirkannya secara lebih jernih dan tanpa tendensi emosi yang berlebihan.

Belakangan ini, berbagai aplikasi service di internet semakin membanjir. Masyarakat sebagai konsumen akhir seakan benar-benar dimanjakan dengan semakin lengkapnya apa yang dibutuhkan di media internet. Di Indonesia, Pada kisaran 5 tahun yang lalu, media jejaring sosial Friendster memegang dominasi pasar, dimana lewat situs ini masyarakat dapat mencari informasi-informasi dan menghimpun rekan-rekan yang telah lama tidak bertemu. Dalam 2-3 tahun terakhir dominasi tersebut mulai memudar dan secara perlahan tapi pasti dominasi mulai beralih ke situs Facebook, Twitter, Plurk, dan lain sebagainya. Bila dilihat secara lebih mendalam, apa sebenarnya kunci kesuksesan situs kategori ini? Mungkin ada banyak poin alasan, namun satu hal yang saya pribadi dan lingkungan saya rasakan adalah fleksibilitas dan kemudahan untuk membuka diri pada dunia lewat kemudahan update status, sehingga dapat menggambarkan apa yang sedang dirasakan individu tersebut pada dunia. Bagaimana situs-situs ini akhirnya muncul sebagai media penyaluran eksistensi dan curahan hati bagi sebagian orang.

Berbagai aplikasi di internet kini menawarkan kebebasan berekspresi bagi tiap-tiap orang. Nah, di sini lah kita semua dituntut untuk bisa menjadi pribadi yang tidak hanya bebas, tapi juga bertanggungjawab. Kita bebas berekspresi di dunia maya, namun kita juga harus bisa mempertanggungjawabkan efek samping yang mungkin muncul dari reaksi kita tersebut. Belakangan banyak muncul kasus seputar RASISME ataupun penghinaan lewat berbagai media jejaring sosial. Ini mengindikasikan wujud kebebasan yang kebablasan.

Dalam suatu pemberitaan, ada sekelompok aktivis sosial yang menyurati Mark Zuckerberg, pemilik Facebook, untuk melakukan sesuatu untuk membatasi dan mencegah aliran informasi dan provokasi yang berbau rasisme. Hal ini menjadi masuk akal ketika Facebook telah berhasil menjadi media jejaring sosial dengan tidak kuran dari 200 juta pengguna di seluruh dunia. Potensi inilah yang sering dilihat oleh kampanye kelompok, politik, radikal untuk menyebarkan isu-isu SARA (Suku, Agama, Rasisme) yang rentan untuk memprovokasi sekelompok pengguna lainnya. Demikian halnya dengan media Twitter ataupun Plurk yang terkadang juga jadi media pengaktualisasian diri secara kurang tepat.

Sebenarnya bila kita mau melihat secara lebih jernih lagi, semuanya pada akhirnya akan kembali ke individu-individu yang terlibat dalam lingkungan ini. Kunci keberhasilan untuk menanggulangi hal ini adalah keterlibatan aktif dari tiap-tiap individu untuk MENANGGAPI KEBEBASAN TANPA KEBABLASAN.

SARA merupakan suatu fakta yang tidak dapat kita pungkiri telah ada sejak awal lama di dunia. Kita tidak dapat melakukan apapun untuk menghilangkan perbedaan itu. Mengapa perbedaan itu harus menjadi penghalang? Perbedaan itu bisa menjadi kekuatan dan kekayaan bagi kita bila kita sikapi dengan benar. Mari kita bersama wujudkan hidup yang lebih indah. Jadikanlah kasus yang menimpa Zul sebagai pembelajaran terakhir untuk kasus pelecehan SARA di media internet. Mari bersama wujudkan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan yang ada.

“Kita semua sebenarnya lebih mirip dengan burung yang bersayap sebelah. Dan hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat bersama orang lain.”. = Luciano de Crescendo =

=================================================================

= Vote Dito Anggodo sebagai peraih ITB Entrepreneur Awards 2010 di Kategori Profesi di http://iea2010.wordpress.com/vote/ =

1. Buka link http://iea2010.wordpress.com/vote/

2. Lihat bagian Kategori Profesi

3. Pilih Dito Anggodo

4. Klik VOTE

5. Ajakin kenalan-kenalan yang lain mengulangi step 1-5.



Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: