Belajar dari Anak Kecil

15 08 2010

Sering kita memandang sebelah mata pada sosok anak kecil. Sering kita memandang tingkah perilaku orang yang lebih tua lebih meyakinkan untuk ditiru dan diikuti dibandingkan mengikuti tingkah polah anak kecil.

Seiring bertambah usia sering kita mencoba untuk menghilangkan sisi anak-anak kita, kita ingin berubah menjadi seorang yang dewasa, seorang yang bukan lagi anak-anak. Dari hal-hal kecil seperti inilah mungkin yang membuat seringkali ungkapan “kekanak-kanakan” memiliki konotasi makna yang negatif. Padahal, apa yang salah dengan menjadi seperti anak-anak? Bila kita telaah lebih mendalam, seorang anak memiliki beberapa karakter yang menurut saya pribadi cukup baik. Sedari kecil, kita dibiasakan dengan ungkapan, “Gantungkanlah Cita-Citamu Setinggi Langit”. Kalau kita tanya seorang anak, “Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?”, bukan tidak mungkin seorang anak petani akan menjawab ingin menjadi presiden, seorang anak pedagang menjawab ingin menjadi dokter, seorang anak yang orangtuanya pengangguran menjawab ingin menjadi dokter, atau bahkan seorang anak yatim piatu menjawab dengan lantang ingin menjadi insinyur. Bagaimana biasanya tanggapan kita? Kita menyemangati mereka, memotivasi mereka untuk mengejar mimpinya yang setinggi langit, meskipun mungkin dari pemikiran “dewasa” kita, secara refleks dalam hati kita berujar, “mana mungkin…”

Bertambah usia membuat wawasan mereka terbuka lebih luas, bagi sebagian orang hal ini sering kali membuat mereka membuat suatu perencaan dalam pikirannya yang “REALISTIS”. Mereka mulai mengerek mimpi kanak-kanak mereka turun, mengkompromikan impian-impian mereka yang setinggi langit hingga akhirnya mungkin menjadi hanya setinggi atap rumah atau bahkan hanya setinggi tali jemuran.

Teringat potongan quotes dari seorang teman, “Don’t limit your challenge, but challenge your limit”. Ya, jangan sekali-kali kita menyerah pada impian kita yang setinggi awang-awang. Jangan patahkan tangga menuju bintang impian kita hanya dengan kata-kata “REALISTIS”. Jiwa kekanak-kanakan kita harus senantiasa hidup dalam diri kita masing-masing, jangan pernah berhenti bermimpi, gantungkanlah terus mimpi kita setinggi bintang di langit, kemudian gunakanlah kedewasaan berpikir kita untuk meraba-raba langkah demi langkah, anak tangga demi anak tangga yang akan kita lalui untuk mencapai bintang tersebut.

Peliharalah semangat KEKANAK-KANAKAN kita. Biarlah kedewasaan berpikir menjadi media kita untuk mewujudkan impian kanak-kanak menjadi realitas di kehidupan dewasa kita.

Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit, jangan batasi potensi dalam diri kita karena hanya langitlah batasan mimpi dan cita-cita kita


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: