MAWAR

13 09 2010

Mawar itu umumnya dianggap sebagai bunga yang indah nan cantik. Bunga yang pantas diberikan di hari ulang tahun, atau merayakan Hari Kasih Sayang.

Membabat duri

Akan tetapi yang luar biasanya, mawar itu berduri. Saya yang pengetahuan soal bunga ceteknya setengah mati, yaa…sampai hari ini hanya tahu kalau mawar itu pasti berduri. Ya batangnya, ya daunnya. Akan tetapi toh, tetap dianggap cantik. Mengapa begitu? Karena saya melihat hanya dari kelopaknya yang beraneka warna. Pesona itu kemudian diam selamanya di otak, sehingga kalau toh ia berduri, saya menganggap ia tetap cantik.

Karena alasan itulah, saya tak keberatan memberikan bunga berduri itu sebagai perlambang cinta kasih terhadap seseorang, atau terhadap diri sendiri. Maksud terhadap diri sendiri itu adalah memberikan sentuhan pada ruang tamu agar terlihat sedikit cantik, karena tak memiliki pasangan.

Soal pasangan, saya telah diramalkan kalau tak akan pernah berjodoh meski masih dianggap beruntung, karena banyak orang di sekeliling yang mengasihi saya. Selesai mendengarkan hasil ramalan itu, saya jadi bingung. Beruntungkah saya? Dikasihi, tetapi tak mungkin berpasangan.

Nah, mawar itu berduri. Kalau hendak diberikan atau menjadi hiasan, biasanya duri-duri itu dibabat habis. Akan tetapi, mawar dan duri tak pernah terpisahkan. Saya pernah merangkai bunga mawar berwarna merah anggur, dan membabat duri serta beberapa daunnya. Kemudian nurani saya berkicau setelah sekian lama ia tertidur pulas. Pertanyaannya begini. Mengapa duri itu harus dihilangkan?

Saya memberi respons, yaa…supaya saya tak terluka. Setelah memberi jawaban itu, saya mulai berpikir, bukankah mawar itu dianggap indah karena ada kelopak yang indah dan ada batang dan daunnya yang berduri? Yang menusuk, yang membuat berdarah kalau terkena, bahkan membuat radang kalau duri menancap ke dalam kulit dan memerlukan tindakan operasi kecil untuk mengeluarkannya?

Menerima duri

Tanpa duri, akankah saya menyebutnya mawar? Kemudian saya merefleksikan hidup saya sendiri. Saya bisa saja begitu cantik dan tampannya karena kelopak saya begitu memesona. Akan tetapi, saya pun akan dikenal orang karena saya memiliki duri di dalam daging. Duri yang berwujud mulut yang membinasakan, dan atau perilaku yang meluluhlantakkan kehidupan diri sendiri dan orang lain. Dan seperti bunga indah itu, saya tak hanya membuat meradang, tetapi melukai dan kemudian berdarah.

Akan tetapi, di hari itu saya berpikir lagi. Kalau mawar itu indah dalam satu paket, artinya mawar sama dengan kelopak indah plus batang berduri, maka manusia adalah sama dengan bentuk luar yang indah, plus ruang dalam yang beronak duri.

Kalau kemudian mawar terlihat sempurna karena ada keduanya, akankah saya bisa dianggap sempurna karena paketnya sebelas duabelas dengan bunga mawar yang menurut manusia indah itu meski berduri?

Kalau bunga mawar saja dijadikan perlambang bunga yang romantis, dan disodorkan kepada kekasih hati berikut duri-durinya, meski dalam sebuah rangkaian cantik dan terlindungi pembungkus baik kertas atau plastik, bukankah saya juga pantas disodorkan sebagai wakil Miss Universe, atau wakil apa pun tanpa harus menuntutnya untuk sempurna tanpa duri?

Kalau duri mawar bisa dibabat habis, sejujurnya saya tak bisa membabat habis duri di dalam saya. Hari ini dibabat, besok sudah tumbuh lagi. Kok besok? Kadang baru dibabat sedetik, kemudian bisa muncul di detik berikutnya. Di akhir pekan itu saya bingung. Jadi saya memutuskan dalam keadaan bingung, untuk melihat manusia seperti bunga mawar saja. Sempurna karena ada duri. Bukan karena tidak ada duri.

Sama seperti mawar yang saya anggap cantik karena kelopaknya, dan merasa tak masalah kalau ia berduri, maka sebaiknya saya kalau melihat manusia itu, bagian yang indah saja yang saya tancapkan di kepala, buruknya tak perlu diingat alias dibabat dari pemikiran saya.

Sehingga setiap saat saya melihat ciptaan Tuhan seperti setiap saat saya melihat mawar, mulut saya tidak mengumpat, sama seperti saya tak pernah mengumpat mawar karena ia berduri. Nah, kalau sama mawar berduri saja saya enggak keberatan, mestinya sama manusia yaa..sami mawon.

Eh…di saat saya masih bingung lagi. Nurani saya mulai kurang ajar. ”Kamu mau disebut mawar tetapi berduri, atau tanpa duri tetapi namanya bunga bangkai?”

by : Samuel Mulia


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: